Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

About

Senin, 06 Juli 2015

FF Kai EXO "Ludos" Chapter 1

Title : Ludos (Chapter 1)
Author : thebaroness
Main Cast : Kai, You
Other Cast : Kris, EXO
Genre : Fluff, Hurt

Rating : Teen
credit : http://www.asianfanfics.com/story/view/659609/ludos-drama-fluff-highschool-exo-kai-teenlove
Chapter 1

Dedikasi,
Untuk semua gadis yang sedang menyukai seseorang.
menghabiskan waktu memandanginya,
bertanya-tanya apakah ia tahu

dan suatu hari menangkap ia menatap balik.........



"Violet, apa kau sudah selesai? Cepat, yang lain sudah di gym." Kimberly memanggil sahabatnya yang masih berganti baju ke baju olahraga di ruang ganti.

"Sebentar!" Balas Violet. Kimberly menghembuskan napas, tidak tahu apa yang membuatnya lama sekali. Mungkin Violet hanya ingin terlihat cantik, secara ini minggu pertama mereka di SMK. Melihat cewe senior mereka yang menakutkan dan cantik dalam waktu bersamaan. Dan tidak lupa senior cowok yang lebih gagah daripada teman mereka yang sebaya.

"Aku selesai!" Kata Violet saat ia membuka pintu, hanya untuk menemukan Kimberly berdiri disana, memutarkan mata padanya.

"Dimana Amy?" Tanya Violet karena ia tidak melihat orang lain dalam ruang ganti.

"Dia sudah duluan, Ayo." Jawab Kimberly dan mereka pergi ke gym.

"Okay, bagi menjadi dua tim. Kita akan bermain netball hari ini." Guru olahraga berteriak ke mereka. Violet tersenyum, ia selalu bagus dalam netball. Tidak, ia pemain netball di SMP. Ia tidak bagus, ia mengagumkan dalam netball. Kimberly langsung berlari ke Violet, karena jelas semua orang ingin dalam satu tim yang diperkirakan akan menang.

"Aku akan memimpin tim lain!" Amy teriak ke Violet, Violet mengangguk. Amy sama seperti violet, pemain netball yang bagus dan mereka satu tim di SMP. Kimberly seorang dari mereka bertiga yang tidak bagus dalam olahraga. Jika ada satu hal dimana Kimberly bagus, itu pelajaran. Ia mengungguli mereka.

Saat guru olahraga meniup peluit, Amy bersumpah ia melihat Violet menyeringai padanya. Amy menempati posisi 'tengah' sementara Violet di posisi 'serangan'. Para cewek mulai berlarian di lapangan, menserving atau menerima bola satu sama lain. Yup, permainan yang bagus. Ketika Violet mendapat bola, ia membalikkan badannya tapi tetap hati-hati dalam langkahnya, sasarannya pada net dan saat baru saja akan memukul bola, ia merasakan bola lain datang lurus ke pundaknya. Ia kehilangan keseimbangan karena bola itu datang sangat cepat, ia jatuh, mengernyit kesakitan. Sakit pertama datang di pundaknya, dan selanjutnya pada pantatnya.

"Ouch!" Violet mengernyit. Semua orang kaget.

"Oh, maafkan aku!" Ia mendengar suara cowok dari seberang gimnasium. Ia juga mendengar langkah kaki datang ke arah Violet tapi ia tidak perduli untuk mengangkat kepalanya untuk melihat ke cowok itu.

"Maaf,aku sungguh tidak bermaksud!" Cowok itu mengatakan kembali saat ia sampai di depan Violet. Cowok itu membungkuk menyamai Violet. Violet memutuskan untuk melihat ke arah pelempar dan mengingatkan dirinya beberapa kali untuk tidak meninjunya ketika Violet melihatnya. Violet mengangkat kepalanya, dan berhenti saat mata Violet bertemu dengan mata cowok itu.

Jika ia berkata ia melihat malaikat ia akan terlalu berlebihan tapi itulah apa yang ia lihat. Ia mengunci matanya dengan dia, dan tak dapat berkata apa-apa. Ia tahu semua orang sedang datang ke arahnya, untuk melihat apakah ia baik-baik saja tapi ia tidak dapat mengalihkan matanya dari cowok itu. Mata yang gemerlap itu sangat indah sampai ia hampir mengira cowok itu operasi plastik, hidung mancungnya sangat pas pada wajah halusnya. Garis tajam rahangnya membuat ia terlihat sangat gagah, maskulin, dan bibir menariknya membuat ia akan sangat bersyukur untuk menciumnya. Ia berkedip lagi. Ia yakin bola tadi itu mengenai pundak, bukan kepala. Jadi tidak mungkin ia gegar otak dan berhalusinasi. Ini nyata, cowok itu nyata

Ketika ia merasa sentuhan di pundak, barulah Violet kembali dari mimpinya.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Amy. Violet mengumpulkan keberanian untuk mengalihkan pandangannya dari cowok itu dan mengangguk ke Amy.

"Ya, aku baik-baik saja." Ia menggangguk kepalanya pada Amy lalu Amy membantunya berdiri dari tanah. Cowok itu mengikuti.

"Violet Lee, kau baik-baik saja?" Guru olahraga bertanya. Violet mengangguk dan guru itu meniupkan kembali peluitnya dan menyuruh anak-anak untuk bubar.

"Dengar, aku sungguh minta maaf. Itu kecelakaan. Aku harap kau tidak terluka." Cowok itu minta maaf lagi.

"Ga papa, jangan khawatir. Aku sudah terbiasa" Violet tersenyum. Cowok itu balas tersenyum padanya, lega karena Violet sekarang berbicara padanya. Ia takut Violet akan membencinya, atau mungkin berpikir ia seorang brengsek.

"Kau terbiasa terkena pukulan bola?" Cowok itu bertanya lagi sambil mengangkat alisnya. Violet tertawa kecil, begitu juga cowok itu.

"Tidak, maksudku, aku terbiasa dengan bola, secara aku pemain netball. Satu pukulan dari bola tidak akan membunuhku." Kata Violet. Cowok itu mengangguk mendengar penjelasannya sambil tersenyum. Hampir tiba-tiba, senyumnya menghilang dan digantikan dengan kerutan di dahinya.

"Tetap saja, itu tidak menghilangkan rasa tidak enakku. Aku benar-benar minta maaf." Kata cowok itu lagi.

"Sudah kubilang, itu bukan masalah." Balas Violet.

"Oooookay, jadi, Violet namamu?" Cowok itu bertanya dan Violet mengangguk pada pertanyaannya.

"Nama yang bagus." Cowok itu tersenyum lagi, senyuman yang tanpa sadar memberikan suatu effect pada Violet.

"Oh, aku harus pergi." Cowok itu cepat-cepat membungkuk dan mengambil bola yang tadi mengenai Violet. "Dan aku minta maaf." Ia tersenyum dan pergi. Violet menatapnya saat ia berjalan ke arah lapangan basket. Ia tidak berani menanyakan namanya. Kau tidak bisa begitu saja menanyakan nama seorang senior. Tapi lagi-lagi, ia tersenyum menatapi kepergiannya, karena ia sadar ia tidak perlu bertanya. Cowok itu memakan kaos jersey dan dibelakangnya, tertulis nama dicetak tebal yang diyakini nama cowok itu, "Kris"
"Ia seorang senior, V" Amy memutar matanya, tahu sekali ini akan berakhir seperti apa.

"Apa? Aku bahkan tidak mengatakan apapun." Violet membela diri.

"Ya terserah, tapi aku tahu sekali mata apa itu." Kata Amy sok tahu.

"Mata apa?" Violet mengernyit bingung.

"Mata jatuh cinta." Kata Amy sambil berlari untuk kembali ke permainan.



Kim Jong In

Setiap hari selalu sama. Pergi sekolah, tatapan para gadis di koridor, berbisik-bisik betapa tampannya kita hari ini. Tahun lalu kita hanyalah seorang junior tapi sekarang kami sudah kelas 2, orang-orang mulai bergosip tentang kami, cewek senior mulai mengetahui keberadaan kami. Aku tidak tahu apa yang dirasakan teman-temanku di grup tapi sesungguhnya aku senang dengan semua gossip dan bisikan-bisikan, itu membuatku merasa diinginkan. Saat aku di sekolah dan semua gadis mengagumiku dan temanku, aku harus berkata, ini menyenangkan.

Minggu pertama tahun baru sedikit membosankan, kebanyakan waktu kita habiskan untuk mencari junior cantik atau jelek untuk ditertawakan. Tapi, tidak ada yang menangkap perhatian kami. Well, mungkin, belum.

"Kai! Kau tidak ke audisi?" Tao, teman sebangkuku di kelas bertanya.

"Audisi? Audisi apa?" Aku balas lagi dengan pertanyaan.

"OMG, audisi dance, kau kan wakil ketua di klub." Sela Sehun, yang duduk di sebelahku.

"Hah? Hari ini ada audisi di klub?!" Aku bertanya lagi, merasa bingung seumur hidupnya.

"Ya, Kai. Hari ini ada audisi untuk junior yang mau ikut. Hari ini, pulang sekolah, di studio dance 2." Jelas D.O memasuki percakapan di sebelah kiriku. Bagaimana mereka bisa tahu sementara aku malah kebingungan seperti ini?!

"Apa Lay Hyung tidak memberitahumu?" Tanya Sehun. Oh iya, Lay, sekarang semuanya jelas. Lay adalah ketua klub dance yang aku pikir ia dapatkan hanya karena ia seorang senior. Karena dengan jelas, aku bisa dance lebih baik darinya. Dan kami tidak akrab sama sekali. Aku membencinya karena jelas seharusnya aku yang menjadi ketua, dan ia membenciku karena, inilah yang ia katakan padaku tahun lalu setelah pemilihan ketua, 'kau angkuh dan terlalu percaya diri'. Yup, itulah hubungan 'lovey dovey' kami.

Aku cepat-cepat mengeluarkan hpku dan sms Lay.

'Hyung, hari ini ada audisi untuk junior?'

Setelah 3 menit, hp-ku bergetar. Sms dari Lay.

'Ya. Kau tidak tahu? Kemarin aku meninggalkan catatan berisi tentang audisi itu'

Pembohong, aku tidak mendapat catatan apapun! Jelas-jelas dia sengaja tidak memberitahuku agar aku tidak datang!

'Aku tidak menerima catatan apapun, tapi tak apa. Kita ketemu di studio nanti.'

Aku membalas, dan memasukkan kembali hp-ku ke kantong dan kembali bekerja.


Violet Marie Lee

"V, kau akan audisi klub apa sore ini?" Amy bertanya padaku saat aku menutup loker.

"Aku tidak tahu, kau?" Aku tanya dia balik. Amy mengangkat bahu.

"Aku belum memutuskan sama sekali, Kalau kamu, Kim?" Sekarang ia bertanya pada Kimberly yang berdiri di sampingku.

"Mungkin ke klub Matematika." Jawab Kim.

"Membosankannnn." Kata Amy sambil berjalan bersama.

"Ugh, aku tidak ingin masuk klub apapun. Apa tidak boleh?" Keluhku. Siapa juga yang mau ikut klub sore-sore sementara kita bisa pulang dan mempunyai semua waktu di tangan kita?

"Ini wajib, V. Kita harus memilih satu klub. Kau tahu peraturannya." Kim menguliahiku.

"Kurasa aku akan ke klub dance." Kata Amy sebelum kami bertiga memasuki kelas. Well, aku sudah mengira Amy akan masuk klub dance. Jadi, Kim ikut klub Matematika dan Amy ikut klub Dance. Terus aku harus ikut exkul apa? Hmmm



Saat kurasa aku tidak bisa lagi mencerna apa yang dikatakan sang guru, aku berdiri dan meminta izin untuk ke toilet. Koridor kosong, tentu saja karena semua pasti sedang di kelas. iPhone ku bergetar dan kukeluarkan dari kantongku. Ternyata sms dari ibuku.

'Sayang, papamu dan mama harus pergi keluar kota sebentar, ada bisnis yang harus segera ditangani.'

Kuputar mataku pada smsnya, tentu saja tidak kaget. Aku baru saja akan membalas ketika kurasa seseorang menabrakku, aku terjatuh (lagi), hp-ku terlepas dari tanganku dan pantatku lagi-lagi menghantam lantai dingin.

Sial, tadi bola, sekarang orang? Bisakah hari ini lebih buruk lagi?! Kutukku dalam hati.

Aku angkat kepala dan melihat siapa yang menabrakku dan kaget, aku menemukan cowok didepanku. Ia bergumam sesuatu, dengan jelas sama marahnya denganku. Ia juga jatuh dan mengangkat kepalanya untuk melihatku.

Sekolah apa sih ini?! Gedung penuh dengan cowok-cowok tampan?!

Kalo Kris seperti malaikat, maka yang satu ini benar-benar berlawanan. Cowok didepanku ini sama tampannya seperti Kris, hanya saja lebih ke wajah cowok bandel, tidak, cowok tampan bandel. Aku tidak perlu seorang jenius untuk mengetahui bibir yang berpout yang biasanya jelek di banyak orang, tapi di dia bagus-bagus saja. Bagus untuk dicium. Sial, apa yang kupikirkan?!

"Apa kau buta?" Bentaknya. Oh bagus, baru saja aku berpikir semuanya baik-baik saja, dia kasar.

"Tidak." Ku jawab, memutarkan mataku padanya.

"Oh dan ternyata kau tidak tuli." Lanjutnya, apa coba maksudnya. Aku menatapnya, mengangkat kedua alisku.

"Kau tidak buta, berarti seharusnya kau melihat kemana kau berjalan. Kau juga tidak tuli, jadi kau harus minta maaf padaku karena telah menabrakku." Katanya dan ia berdiri. Kuputar lagi mataku dan berdiri.

"Kau tidak buta dan tidak tuli, mungkin kau harus melihat kemana kau berjalan dan minta maaf." Balasku. Aku berusaha sabar karena tidak mau membentaknya. Ia pasti seniorku karena aku yakin ia tidak sebaya denganku. Ia menyipitkan matanya, mencoba mengintimidasiku.

"Aku? Minta maaf padamu? Dalam mimpimu." Ia mendesis.

"Aku menonjokmu berkali-kali dalam mimpiku." Balasku cepat. Aku tidak akan menyerah.

"Kai!" Suara cowok berteriak dari belakangnya. Ku cari sumber suaranya dan menemukan cowok tampan lain berjalan kearah kami. Ya Allah, ini benar benar gedung penuh cowok-cowok tampan.

"Terserah." Cowok yang menabrakku yang aku duga bernama Kai menatapku tajam. Lalu ia membungkuk dan mengambil iPhone dari lantai.

"Itu punyaku!" Kataku cepat. Ia memutar matanya dan memasukkan hp yang ia ambil ke kantongnya.

"Tidak, cantik, ini punyaku, itu punyamu." Ia balas dengan nada mengejek sambil menunjuk iPhone lain di lantai. Ku menunduk dan melihat iPhone putih lain disana.

"Oh, benar." Kataku dan cowok yang memanggil tadi sampai.

"Ada apa?" Cowok itu bertanya.

"Tidak apa. Ayo." Kai jawab dengan dingin dan pergi. Cowok yang tadi memanggil, menatapku dan tersenyum. Oh, paling tidak temannya punya sopan santun. Aku membungkuk padanya, sadar ia seorang senior. Ia membungkuk kembali dan berjalan pergi, mengikuti Kai.


Aku membungkuk dan mengambil hp-ku, menaruhnya kembali di kantongku. Aku menghembusan napas, terlalu banyak kejadian dalam satu hari. Aku kembali berjalan ke toilet, memikirkan cowok kasar itu.

Oh Tuhan, bukankah seharusnya SMK itu menyenangkan? Bukankah ini seharusnya tempat dimana semua cowok yang aku temui menarik dan tampan seperti yang selalu kutonton di film-fim dan baca di novel? Ku gelengkan kepalaku, berpikir jika ini film, mungkin pertemuan pertamaku dengan Kai tidak akan buruk.

______________________________

Yo, EXO-L. Akhirnya Chapter 1 jadi juga. Sekarang aku sangat menghargai para translator dan yang buat ni ff, kak thebaroness.. Susah binggoww..
Tapi ada kesenangan sendiri saat udh slesai. So, ENJOY bacanya ya!!
Aku akan kembali membawa Chapter 2.
Commentnya please, tanpa comment hidupku hampa :v

0 komentar:

Posting Komentar