Title : Ludos (Chapter 2)
Author : thebaroness
Main Cast : Kai, You
Other Cast : Kris, EXO
Genre : Fluff, Hurt
Rating : Teen
Violet
Segera setelah kelas
terakhir selesai, Kim dan Amy lansung berlari ke mejaku. Aku tahu apa
yang akan mereka lakukan, memaksaku ikut pendaftaran klub salah satu
dari mereka.
"Ayolah V, kau bagus
dalam Matematika." Kim berbicara.
"Ya benar."
"Oke oke, cepat kita
lewati semua drama dan akuilah untuk sekali ini saja kalau V punya
'sesuatu' untuk dance, jadi bisa kita berangkat sekarang?" Amy
mencoba meyakinkanku. Aku menatapnya, berpikir kata-katanya ada
benarnya juga. Aku selalu suka dance, ku merasa itu jalan
mengekspresikan diriku. Tentu saja aku tidak pernah mengikuti kelas
dance, karena orangtuaku berpikir itu hanyalah buang-buang waktu.
Tapi melihat pilihan ada ditanganku sekarang, kurasa dance terdengar
lebih baik daripada Matematika. Bukan berarti tidak ada klub lain
yang bisa aku ikuti, hanya saja aku akan lebih suka jika aku bisa
bersama salah satu dari sahabatku. Ku hembuskan napas, tahu Amy akan
berteriak kemenangan.
"Kurasa aku lebih
memilih dance." Kataku lambat.
"Yeay!" dan aku
benar, Amy berteriak.
Saat kami sampai di studio
dance, aku harus akui ini terasa mengintimidasi. Hampir semua junior
yang mendaftar adalah cowok dan kebanyakan cowok-cowok temanku dari
SMP. Well, aku tidak memberikan memori bagus pada mereka, karena aku
agak tomboy, aku mempunyai masalah dengan beberapa dari mereka, tentu
saja karena mereka mengganggu sekali.
"Masuklah, sebentar
lagi dimulai." Aku dengar seorang cowok menyambut kami ketika
kami masuk ke studio. Huh, aku tidak bercanda saat aku bilang ini
gedung penuh dengan cowot 'hot' karena cowok yang baru saja menyambut
kami sangat tampan. Aku perhatikan lesung di pipinya setiap kali ia
tersenyum, yang otomatis memicu sesuatu dalam diriku untuk tersenyum
kembali. Aku duduk disebelah Amy dan menunggu mereka untuk mulai.
"Selamat datang di
Victoria High School." Cowok itu membuka acara.
"Namaku Lay, dan aku
ketua di dance club. Ini minggu kedua kalian disini dan aku harap
minggu lalu berjalan lancar." Lanjut Lay.
"Aku sadar kalian semua
mengerti aktivitas club itu wajib dan aku berterimakasih karena sudah
datang untuk pendaftaran club. Walaupun demikian, Dance club adalah
salah satu Club yang dibatasi membernya, berbeda dengan Club lain,
kita akan melaksanakan audisi untuk memilih member yang dapat
mengikuti club." Aku menghela napas kaget pada pernyataannya.
Audisi? Sial, aku belum menyiapkan apapun.
"Tapi jangan khawatir.
Audisi........." Tiba-tiba pintu studio terbuka kasar. Dua cowok
masuk, tangan di kantong mereka.
"Maaf aku telat."
Kata cowok pertama, cowok yang aku kenal, Kai. Oh tidak, cowok yang
menabrakku di koridor. Cowok disebelahnya juga mengangguk pada Lay.
"Maaf." Kata cowok
itu. Lay balas mengangguk pada mereka berdua.
"Semuanya, nama mereka
Kai dan Sehun. Kai seorang wakil ketua dance club, kelas 2. Yang satu
lagi, Sehun, ia juga kelas 2. Member yang aktif di club." Oh,
ternyata nama dia Sehun.
"Seperti yang aku
katakan, akan ada audisi, tapi untuk hari ini kalian hanya akan
menuliskan nama kalian, kami akan membagi kalian menjadi beberapa
grup dan kita akan menuliskan kapan audisi akan dilaksanakan."
Kata Lay.
"Kurasa itu saja,
kalian bisa menuliskan nama kalian saat keluar nanti. Kai, ada yang
ingin ditambahkan?" Semua mata sekarang tertuju pada Kai. Kai
mengangkat kepalanya dan menatap Lay.
"Kenapa berbicara saat
kita bisa dance?" Sehun yang berdiri dibelakang Kai tiba-tiba
berbicara. Lay memutar matanya, dengan jelas tahu ini akan datang.
"Oke oke, bisa nyalakan
musiknya?" Kata Lay dan aku melihat Kai menyeringai, lalu ia
berhigh-five dengan Sehun dan mereka bertiga mengambil posisi di
tengah studio.
Bilang mereka bagus sudah
dipastikan kebohongan. Mereka luar biasa! Mereka salah satu dari
sedikit orang yang hanya bergerak dan membuatmu merasa kau menonton
pertunjukan yang layak ditonton. Saat Lay dance, ia dance penuh
dengan ekspresi, seakan ia dance seumur hidupnya. Sementara Sehun
adalan dancer bertalenta, tidak ada yang bisa membantahnya. Tapi
sesuatu dengan Kai dan dancenya sesuatu yang membuat orang-orang
masuk, membuatku masuk. Tidak ada yang tahu apa itu, mungkin karena
seringainya saat ia dance, atau matanya yang ia sipitkan dan berkedip
mengintimidasi orang, atau mungkin gerakan tangannya yang membuat
dirimu bereaksi pada gerakannya, aku tidak tahu. Bahkan setelah musik
selesai, aku masih bingung apa itu yang membuat Kai dikagumi oleh
semua gadis, membuat semua laki-laki di studio berharap mereka adalah
dia.
Saat mereka selesai, semua
bertepuk tangan. Amy yang duduk disebelahku bertepuk tangan seperti
anjing laut yang diikat, kencang sekali.
"Dia 'Hot'" Amy
memberitahuku.
"Yang mana?"
Tanyaku.
"Kai." Ia
tersenyum lebar padaku. Benar, tunggu sampai kau bicara padanya dan
kau akan tahu bagaimana 'Hot' emosinya tapi tentu saja aku tidak
berkata apa-apa. Ia seniorku, dan mungkin dia punya hari yang buruk
karena itu tadi ia dingin dan galak. Aku mencoba berpikir positif
sebisaku. Aku memilih tidak merespon Amy dan mengalihkan tatapanku
darinya dan menaruh tatapanku kembali ke tiga cowok yang baru saja
selesai dance.
Dan aku bersumpah, aku
melihat Kai mengeryit padaku.
Orang tuaku tidak pernah
dirumah, gak kaget sih. Pulang kerumah tanpa ada orang sudah menjadi
rutinitas. Kulempar tasku ke ranjang lalu setelah itu melemparkan
diriku sendiri. Tiba-tiba aku mendengar suara hp dalam kantongku, aku
mengangkatnya tanpa melihat ID penelepon dan menempelkan di
telingaku.
"Hallo." Terdengar
suara wanita.
"Ya?" Tanyaku to
the point. Aku lelah dan merasa terkuras tenagaku, lebih baik ini
sesuatu yang bagus.
"Dimana Violet? Tanya
wanita itu.
"Siapa Violet?"
Kutanya kembali. Ada apa sih ini?
"Anakku. Kenapa kau
mengangkat hp-nya?" Tanya wanita itu lagi. Hp-nya? Violet itu
nama orang?
"Violet itu anakmu? Dia
itu apa? Pelangi*?" Aku tanya dengan nada mengejek. Aku mencoba
mengingat nama teman cewekku, apakah ada yang bernama Violet.
Kugelengkan kepala, sepertinya tidak.
"Aww kau memanggil
anakku rainbow**? Jangan-jangan kau pacarnya ya?" Tiba-tiba nada
wanita itu menjadi baik. Aku mengejek dalam kepalaku pada
pertanyaanya, dan Oh aku ingat! Cewek yang aku tabrak di koridor! Ini
pasti hp-nya, oh sial, dan pastinya hp-ku ada padanya. Tapi kalau
diingat lagi, cewek itu kasar. Hmm, mungkin lebih baik kuberi
pelajaran dia, untuk memberitahunya siapa bossnya disini.
"Ahh, Ya benar."
Kujawab lambat dengan seringai di wajahku.
"Aku tahu itu, akhirnya
ia menemukan seorang pacar, Dimana dia? Apa dia bersamamu?"
Tanya eommanya.
"Ya, dia disini, di
toilet. Sebentar, akan kupanggilkan."Aku menyeringai lebih
lebar, memikirkan ia akan mendapatkan masalah besar jika aku lakukan
ini. Pikiran itu membuatku senang.
"Baby, apa kau sudah
selesai memakai bajumu? Eommamu menelepon." Aku bisa mendengar
eommanya menghela napas kaget di seberang sana, dan suara yang aku
dengar selanjutnya suara 'beep'. Dia menutup telephonenya, hah!
Violet, ini akan memberimu
pelajaran.
*Pelangi = Rainbow
**Kata pelangi disini akan
aku ganti dengan Rainbow, karena terdengar lebih bagus.
Violet
Aku sedang mengerjakan PR
IPA-ku saat aku dengar bunyi telephone rumah. Aku berdiri, dan
berjalan ke ruang baca, yang ada di sebelah kamarku.
"Hallo?" Kataku.
"Yahhh apa ini Violet
Lee?!" Seorang wanita berteriak dan aku langsung tahu itu Mom.
"Mom, tidak perlu
berteriak bisa ga sih?" Balasku.
"Kamu sedang apa?!"
Ia masih berteriak padaku.
"Mengerjakan PR. Mom,
ada apa?" Tanyaku.
"Mengerjakan PR? Jangan
coba-coba berbohong padaku! Dimana kamu?" Mom menghujaniku
dengan pertanyaan.
"Mom, pake logika deh.
Kau menelepon ke telephone rumah, tentu saja aku dirumah."
Jawabku.
"Apa ada cowok
bersamamu?" Dengan cepat Mom bertanya lagi. Sekarang ini absurd.
"Hah?? Tidak, aku
sendiri!" Sekarang giliranku yang berteriak.
"Kau berbohong padaku
Violet, karena tadi aku menelepon hp-mu dan seorang cowok
mengangkatnya." Jelas Mom.
"Tunggu, hp-ku?
Terakhir kali aku lihat hp-ku saat aku dalam perjalanan pulang
kerumah dan hp itu mati, mom. Kurasa baterai'a habis. Dan aku juga
tidak ingat aku sudah mengisi baterainya, jadi aku yakin hp itu masih
ada di tasku. Mom yakin tidak salah nomor?" Kutanya Mom, mencoba
menjadi yang yang berkepala dingin. Mom diam beberapa saat.
"Aku akan bertanya pada
pembantu besok apa kau ada dirumah malam ini. Kau lebih baik
hati-hati, Violet." Ancam Mom. Kuputar mataku.
"Iya, Mom. Tanyalah.
Goodnight." Ku langsung berlari ke kamarku. Kubuka tas
sekolahku, mengambil hp dan mengisi baterainya segera. Setelah
beberapa saat menunggu, ku nyalakan hp itu.
Sial, ini bukan hp-ku.
Kututup mata dan tiba-tiba
merasa lelah ketika aku ingat 'kecelakaan' tadi di sekolah. Hp ini
pasti punya Kai. Ia mengambil hp yang salah. Dan apa yang ia katakan
pada Mom yang membuat ia berpikir aku bersama si brengsek Kai itu?
Salahkan aku jika aku
terlalu banyak membaca novel atau film, tapi bukankah saat cowok
tidak sengaja mengambil barangku ia akan datang kerumah, membawakan
barangku dan lalu aku akan merasa
berterima kasih padanya?
Well, jika ini film, mungkin itu akan terjadi.
Chapter 2, Enjoy! Comment
sangat ditunggu :)


